adsen

Selasa, 06 Juli 2010

SERIKAT BURUH DAN PARTAI KELAS BURUH Oleh IBNU PARNA

SERIKAT BURUH DAN PARTAI KELAS BURUH Oleh IBNU PARNA*

  1. PERTENTANGAN POKOK.

  1. Di segala lapangan dalam abad XX ini berlaku pertentangan pokok antara modal dan Buruh. Adapun pertentangan tersebut pada dasarnya tiada lain daripada perebutan mengenai Nilai Lebih. Dengan mempermainkan kebodohan Buruh, bersenjatakan pentungan raksasa yang bernama Negara, serta mempergunakan badan-badan kemodalan sebagai perahu dan benteng, kaum modal memeras Nilai Lebih sebanyak-banyaknya daripada tenaga Buruh dengan jalan:



  1. Membayar Buruh serendah-rendahnya.

  2. Memperpanjang waktu kerja.

  3. Memperbaiki alat-alat produksi.



  1. Sebaliknya kelas Buruh yang menanggung kemelaratan mencoba memperbaiki nasibnya dengan mengurangi Nilai Lebih dari tangan kapitalis itu dengan jalan:



  1. Menuntut pembayaran upah setinggi-tingginya.

  2. Menuntut jam kerja sependek-pendeknya.

  3. Memusuhi kemajuan mesin yang banyak menimbulkan pengangguran itu. (inilah sasaran aksi Buruh sebelum menemukan pokok pikiran Sosialisme)



  1. SENJATA DAN PENGALAMAN KELAS BURUH.



  1. Dalam perjuangan perbaikan nasib kelas Buruh memperoleh senjata yang bernama organisasi. Organisasi ini diberi nama Serikat Buruh. Dalam ichtiar perbaikan nasib dengan susunan Serika Buruh itu kelas Buruh lambat-laun memperoleh pengalaman yang dapat disimpulkan seperti dibawah ini:



  1. Kenaikan upah selalu disusul dengan kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.

  2. Tuntutan jam bekerja sependek-pendeknya disambut oleh modal dengan perbaikan alat-alat produksi yang mudah menimbulkan pengangguran.

  3. Memusuhi kemajuan mesin-mesin dengan merusak mesin-mesin yang banyak menimbulkan pengangguran itu dalam prakteknya berhadapan dengan kekerasan Negara (polisi, tentara, dll) yang dalam prakteknya tidak mungkin dihadapi oleh gerombolan Buruh masing-masing, malahan tidak dapat dihadapi oleh kekuatan kelas Buruh sendiri.



  1. Pengalaman dalam gerak-gerik perbaikan nasib itu mengajarkan kepada kelas Buruh, bahwa sesungguhnya tidaklah cukup bagi Buruh sekedar menuntut perbaikan nasib. Disamping ichtiar perbaikan nasib kelas Buruh perlu bergerak maju kearah perubahan nasb. Perjuangan perubahan nasib ini akhirnya melahirkan senjata baru disamping Sarikat Buruh ialah Partai kelas Buruh.



  1. SAREKAT BURUH DAN KASTA BURUH.

Untuk beroleh pedoman sekedar kearah konsolidasi organisasi kasta Buruh Indonesia perlulah kepastian diantara kita:



  1. Tentang kedudukan perjuangan perbaikan nasib dalam ichtiar perubahan nasib.

  2. Tentang persamaan, perbedaan dan sangkut paut Serikat Buruh dan Partai kelas Buruh.

Dengan bahas kepastian tersebut dapatlah disusun rencana-rencana praktis arah konsolidasi kelas Buruh Indonesia.

  1. PERBAIKAN NASIB DAN PERUBAHAN NASIB.



  1. Perjuangan perbaikan nasib terbatas kepada perbaikan nasib Buruh dalam lingkaran masyarakat kapitalis. Sebaik-baiknya nasib Buruh dalam masyarakat kapitalis, kelas Buruh tidak berkuasa atas hasil pekerjaan dan kelas Buruh tidaklah pula kuasa atas Nilai Lebih yang diperas tenaganya itu. Sebaik-baiknya nasib Buruh dalam masyarakat kapitalis, kelas Buruh tetap tiada dapat hidup tentram, karena tetap terancam kedudukannya dengan kenaikan harga kebutuhan sehari-hari yang tiadalah seimbang dengan kenaikan upah, tetep terancam ketentraman rumah tangganya dengan bahaya perang, dll.



  1. Sebaliknya perobahan nasib tidaklah didapat dalam masyarakat kapitalis. Perubahan nasib hanya dapat diperoleh diatas kuburan masyarakat kapitalis. Untuk dapat merubuhkan masyarakat kapitalis amatlah dibutuhkan kesadaran massa Buruh. Itulah sebabnya tiap kepincangan dalam masyarakat kapitalis yang banyak menimpa nasib Buruh itu perlu dipergunakan sebagai latihan guna menambah kesadaran Buruh, sebagai saluran untuk memperkaya pengalaman Buruh. Demikianlah perjuangan perbaikan nasib tidaklah boleh dipandang sebagai soal yang tersendiri, melainkan harus dipandang dan dilakukan sebagai bagian daripada perjuangan perubahan nasib.





  1. PERSAMAAN ANTARA SERIKAT BURUH DAN PARTAI KELAS BURUH.



  1. Baik serikat Buruh maupun Partai kelas Buruh kedua-duanya adalah alat perjuangan kelas Buruh, artinya kedua-duanya adalah alat untuk mencapai tujuan Buruh. Demikianlah Serikat Buruh dan Partai kelas buruh tetap ada dan tetap perlu dipertahankan selamanya masih dibutuhkan oleh kelas Buruh. Jalannya Partai kelas Buruh dan serikat Buruh pasang surut sepadan dengan perkembangan kelas Buruh. Begitulah badan yang menamakan diri sebagai Serikat Buruh atau Partai kelas Buruh, tetapi tidak memperjuangkan kepentingan dan kebutuhan Buruh, sudah pasti dan tentu akan mendapatkan hukuman yang setimpal dari amarah kekuatan kelas buruh. Badan-badan semacam itu patut disinyalir oleh kelas Buruh karena badan-badan tersebut bersemboyan Buruh tiada lain hanya memukul kelas Buruh. Serikat Buruh dan Partai kelas Buruh yang bunglon itulah yang perlu dilenyapkan dari muka bumi ini.



  1. Sebaliknya tidak cukup kita memandang Serikat Buruh dan Partai kelas Buruh sebagai alat perjuangan kelas Buruh. Baik Serikat Buruh maupun Partai kelas buruh kedua-duanya tempat perjuangan kelas Buruh, artinya kedua-duanya adalah tempat bagi Buruh untuk berjuang guna mencapai tujuan kelas Buruh. Jelasnya dalam Serikat Buruh dan Partai kelas Buruh bukanlah pengurus semata-mata yang perlu membanting tulang. Pekerjaan dalam Serikat Buruh dan Partai kelas Buruh seluruhnya menjadi tanggung jawab, menolak pendapat bahwa Serikat Buruh dan Partai kelas Buruh maupun dalam Partai kelas Buruh, pengurus dan bukan pengurus semata-mata ialah pembagian pekerjaan, bukan pemborongan pekerjaan. Kebiasaan memandang Serika Buruh dan Partai kelas Buruh semata-mata sebagai alat perjuangan kelas Buruh dengan menolak pendapat, bahwa Serikat Buruh dan Partai kelas Buruh disamping menjadi alat juga menjadi tempat perjuangan kelas Buruh mudah menimbilkan penyakit sentralisme yang tiada sehat seperti:





  1. Main terserah kepada pengurus.

  2. Main borong semua pekerjaan.

Sentralisme yang tiada sehat ini perlu diberantas karena kita sama-sama mengerti, bahwa dasar organisasi kita memang tiada lain daripada Demokrasi Sentralisme, pemusatan yang demokrasi dan demokrasi yang berpusat.

  1. Sebagai alat dan tempat perjuangan kelas Buruh, Serikat Buruh dan Partai kelas Buruh menuju masyarakat baru. Artinya kedua-duanya tiada condong kepada masyarakat kapitalisme dan kedua-duanya bekerja menggalang persiapan menyongsong lahirnya masyarakat baru. Demikianlah Serikat Buruh dan Partai kelas Buruh yang mengharapkan perubahan nasib dalam lingkaran masyarakat kapitalisme ini sesungguhnya adalah alat untuk menipu dan menimbulkan salah ukur dikalangan kasta Buruh.



  1. PERBEDAAN ANTARA SERIKAT BURUH DAN PARTAI KELAS BURUH.



  1. Mengetahui persamaan-persamaan yang didapat antara Serikat Buruh dan Partai kelas Buruh bukanlah patut dijadikan alasan untuk mempersamakan Serikat Buruh dan Partai kelas Buruh atau mempersamakan Partai kelas Buruh dengan Serikat Buruh. Mempersamakan Serika Buruh dan dan Partai kelas Buruh dalam prakteknya mempersulit himpunan massa Buruh. Sebaliknya mempersamakan Partai kelas Buruh dengan Serikat Buruh dalam prakteknya mempercair Partai kelas Buruh.



  1. Disamping memperhaitkan dan mencari persamaan antara Serikat Buruh dan Partai kelas Buruh perlu pula ditarik garis perbedaan antara Partai kelas Buruh dan Serikat Buruh. Menolak adanya perbedaan antara Serikat Buruh dan Partai kelas Buruh disamping persamaan yang kita jumpai antara Serikat Buruh dan Partai kelas Buruh dalam prakteknya akan melahirkan pertumbukkan antara Serikat Buruh dengan Partai kelas Buruh yang sudah barang tentu akan melemahkan kekuatan kelas Buruh.

Perlu diperhatikan perbedaan antara Serikat Buruh dan Partai kelas Buruh:

  1. Serikat Buruh adalah alat yang sederhana daripada perjuangan kelas Buruh. Sedangkan Partai kelas Buruh adalah alat yang sempurna daripada perjuangan kelas Buruh.



Hal ini dapat dimengerti karena Partai kelas Buruh dilahirkan dalam perjuangan yang sudah jauh meningkat pula. Partai kelas Buruh lebih gesit dan lebih mobil daripada Serikat Buruh. Baik legal maupun illegal Partai kelas Buruh tidak menghentikan kegiatannya. Tidaklah demikian halnya dengan Serikat Buruh. Serikat Buruh tidaklah dapat dengan segera mengambil keputusan yang tepat dan Serikat Buruh sesuai dengan sifatnya tidaklah dapat bergerak illegal.



Serikat Buruh bergerak dalam susunan legal. Kesempuranaan daripada Partai kelas Buruh bukanlah berarti dan tidak boleh diartikan sebagai alasan untuk meniadakan peranan Serikat Buruh, Partai kelas Buruh dengan tiada Serikat Buruh adalah sama halnya dengan Jendral tanpa prajurit.



  1. Serikat Buruh adalah tempat yang longgar bagi bagi perjuangan kelas Buruh, sedangkan Partai kelas Buruh adalah tempat yang rapat bagi perjuangan kelas Buruh. Jelasnya Serikat Buruh adalah tempat massa Buruh untuk mengadukan nasibnya mengenai soal-soal harian seperti:



  1. Ramai-ramai mengenai pemecatan kawan sekerja.

  2. Kerewelan mengenai perawatan selagi sakit.

  3. Soal pension

  4. Dan banyak lagi yang lainnya.

Partai kelas Buruh adalah tempat untuk mengadukan nasib Buruh mengenai soal-soal yang besar seperti:

  1. Pembentukan pemerintah Rakyat.

  2. Pembubaran parlemen yang tidak mewakili golongan Rakyat terbanyak.

  3. Pensitaan modal penjajah.

  4. Dan banyak lagi yang lainnya.

Bagi Serikat Buruh soalnya hanyalah asal massa Buruh mau berkumpul bergerak menolak dasar-dasar daripada masyakat sekarang sebagai tingkatan yang mutlak menuju masyarakat baru. Sebaliknya Partai kelas Buruh tidak cukup puas dengan kesimpulan pro dan anti masyarakat baru. Partai kelas Buruh berkepentingan adanya:

  1. Kritik terhadap masyarakat sekarang dengan mempergunakan cara berfikir yang tertentu.

  2. Cara yang tertentu untuk melaksanakan program.

Demikian dapatlah dimengerti bila azas Serikat Buruh ada jauh lebih longgar daripada azas Partai kelas Buruh. Maka Serikat Buruh (yang menuju kemasyarakat baru) sebenarnya cukuplah ber-azas Sosialisme. Sebaliknya Partai kelas Buruh (yang juga menuju masyarakat baru) ber-azaskan Marxisme-Leninisme.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar